Ngobrol Yuk!

Disclaimer: Obrolan ini adalah artikel yang ditulis oleh Simon Ringsmuth di blog Digital Phography School, yang diterjemahkan oleh tim NgobrolYuk.com

ISO adalah salah satu elemen kritikal dari 3 elemen utama pencahayaan (exposure) dalam fotografi, dan dari orang-orang yang pernah saya ajak bicara/diskusi, saya rasa ISO tuh salah satu yang bikin para fotografer kebingungan. Aperture (diafragma lensa) bisa secara fisik dijelasin dengan bikin lingkaran pake jari-jari tangan dan ngasih tahu ke orang seberapa besar bukaan diafragma lensa tersebut, dan shutter speed (kecepatan rana) juga bisa kita jelasin dengan mimik muka, seperti seberapa cepet tutup dan buka mata.

ISO, menurut pengalaman saya, lebih tricky untuk dijelaskan, dan ISO bisa ngehasilin gambar yang luar biasa atau bahkan ngerusak sebuah gambar, walaupun kita udah punya 2 set elemen pencahayaan yang diatur dengan baik.

Saat ini kita berada pada masa dimana ISO, untuk hal-hal tertentu, tidak relevan lagi sepenuhnya seperti halnya Aperture dan Shutter Speed, yang sekarang ini masih memiliki nilai-nilai kebutuhan yang sama kayak dulu. Yah, tentu aja saya gak ngebiarin kamera saya ngatur secara otomatis Aperture dan Shutter Speed pas saya lagi motret, tapi sekarang saya udah gak khawatir lagi buat pake Auto ISO, bahkan sekarang hampir setiap kali saya biarin aja nih kamera yang ngatur ISO secara otomatis.

Sebagai fotografer profesional, tentu aja ini gak gampang, tapi malah hal ini bikin saya ngerasa bebas, dan saya rasa ini bisa berlaku buat kalian juga.

Sebuah gambar yang tajam, pada ISO 4000 dengan Digital Noise yang sangat minim

Sebuah gambar yang tajam, pada ISO 4000 dengan Digital Noise yang sangat minim

Kamera digital saya yang pertama, gak termasuk beberapa kamera jenis point-and-shoot yang saya pernah punya 10 tahun yang lalu, adalah Nikon D200. Ini adalah kamera yang dahsyat, dengan beberapa fitur yang ngelebihin kamera-kamera modern sekelasnya, seperti maksimum Shutter Speed sebesar 1/8000 second dan bodi kamera weather-sealed (tahan cuaca). Satu hal yang bikin saya kurang puas adalah performanya di ISO yang tinggi, khususnya diatas ISO 400. Saya bisa aja motret di ISO 800 dalam keadaan terpaksa, tapi kalau harus naik lagi sampe ISO 1600 dan 3200, yang ngehasilin gambar “berpasir” atau ada noise-nya, itu bener-bener bencana buat saya. Hal ini akhirnya malah ngajarin saya buat selalu belajar memproses secara virtual situasi motret saya, seperti dibawah ini:

  • Motret dengan mode Aperture Priority (saya atur aja Aperture dan ngebiarin kamera saya ngatur Shutter Speed secara otomatis)
  • Atur ISO di 100, 200, atau 400 tergantung dari pencahayaan situasi motretnya (pokoknya gak ngelebihin ISO 400)
  • Pilih Aperture yang bakal ngasih saya depth of field (DoF) atau ketajaman gambar yang saya pengenin
  • Berharap semoga Shutter Speed-nya tidak terlalu lambat/rendah, sehingga hasil fotonya gak blur
  • Kalau ternyata Shutter Speed-nya terlalu lambat/rendah, saya bakal naikin ISO maksimum ke ISO 800, gak lebih
  • Kalau ternyata Shutter Speed-nya masih terlalu lambat/rendah juga, terpaksa deh ngurangin kualitas yang saya inginkan dengan ngebuka lebih besar Aperture-nya
Bahkan D200 tua saya mampu memproduksi gambar yang sangat baik, walaupun menggunakan ISO diatas 400

Bahkan D200 tua saya mampu memproduksi gambar yang sangat baik, walaupun menggunakan ISO diatas 400

Ini adalah sebuah proses yang menurut saya berhasil, tapi seringkali hasil gambarnya gak memuaskan karena satu dan lain hal. Ketika saya akhirnya ngeganti kamera dengan pake kamera yang lebih baru, yaitu Nikon D7100mindset saya tetap sama waktu itu, apalagi kalo berhubungan sama yang namanya ngatur ISO. Saya pasti pengen ngatur ISO-nya sendiri, dan ngebiarin kamera saya ngatur otomatis ISO-nya, yang akhirnya malah ngehasilin gambar dengan noise yang gak sesuai dengan selera saya. Untuk sesaat saya pake proses/mindset yang sama kayak pas saya pake Nikon D200 saya yang lama, walaupun D7100 memiliki kapabilitas high ISO yang jauh lebih baik.

Pada awalnya saya pake “peraturan” lama yang udah saya lakuin selama ini, khususnya untuk gak motret dengan kondisi ISO diatas 400, yang sangat saya hindarin. Terlepas dari kenyataan yang ada di depan mata saya, mata saya masih ngeliat dengan cara pandang lama yang selama ini saya lakuin, dan secara gak langsung saya selalu ngatur ISO dengan titik batas maksimum pada ISO 800, yang saya selalu bilang ke diri saya sendiri bahwa cuma akan saya naikin kalau situasinya sangat memaksa.

Butuh waktu yang lumayan lama buat saya untuk ngilangin cara berpikir kayak gini, dan saya harap sih kalian gak ngelakuin kesalahan yang sama kayak saya.

Motret dengan D200 pada ISO 400

Motret dengan D200 pada ISO 400

A Brief History Lesson

Istilah ISO berasal dari masa-masa dimana kita masih motret pake kamera analog (film negatif), ketika kalian pergi ke toko kamera dan beli roll film dengan nilai ASA 100, 200, atau 400. ASA 200 memiliki sensitifitas pencahayaan dua kali dari ASA 100, ASA 400 memiliki sensitifitas pencahayaan dua kali dari ASA 200, dan seterusnya. Ketika filmnya dimasukkin ke dalam kamera, kalian gak bisa lagi ganti ke film dengan nilai ASA yang lain, sebelum kalian motret sampai habis roll film itu buat kondisi pencahayaan yang lain. Film ASA 100 sangat bagus buat dipake di ruang terbuka (outdoor photography) atau situasi lain yang ngasih lebih banyak cahaya, seperti motret dengan ISO 100 pada kamera digital. ASA 400 lebih bagus kalau dipake di dalam ruangan (indoor photography). Kalau kalian sempet ketemu dulu, ada lho roll film yang ASA 800 atau 1000, tapi ini juga jarang ditemuin dan kalaupun ada dan dipake, akan ngehasilin gambar yang kurang memuaskan.

Saya motret foto ini pake D200 pada ISO 400. Kalau kalian perhatikan dengan sangat seksama pohon dibelakang orang tersebut, kalian akan liat noise pada gambar ini, tapi kalau kalian memperhatikan itu, berarti kalian gak ngerti poin foto ini apa

Saya motret foto ini pake D200 pada ISO 400. Kalau kalian perhatikan dengan sangat seksama pohon dibelakang orang tersebut, kalian akan liat noise pada gambar ini, tapi kalau kalian memperhatikan itu, berarti kalian gak ngerti poin foto ini apa

Pada awal era kamera digital, gak banyak kamera yang nyediain fitur untuk motret dalam situasi low-light (situasi kurang pencahayaan/agak gelap). Bahkan 10 tahun lalu, kalau kalian mau motret di situasi low-light, kalian pasti pake roll film dengan ASA tinggi, karena kamera digital yang ada saat itu kurang bagus kalau dipake buat motret pake ISO yang tinggi. Oh iya, ISO dan ASA gak ekuivalen 1:1 ya, tapi bisa dipake buat perbandingan.

Gimanapun, semua mulai dari perkembangan teknologi sensor digital yang berkembang pesat selama beberapa tahun belakngan ini, yang dimana saat ini kita bahkan bisa motret sampai dengan ISO 3200 atau bahkan ISO 6400 dengan kamera apapun, tanpa ngurangin kualitas gambarnya dan noise yang minim. Kenyataannya, sebagian besar kamera digital sekarang ini bisa ngatur ISO secara otomatis (Auto ISO), yang udah ngasih kebebasan kita semua untuk cuma mikirin Aperture dan Shutter Speed aja.

 

Why I Use Auto ISO

Alasan saya awalnya belajar motret pake mode Manual adalah supaya saya bisa punya kontrol lebih buat hasil foto saya! Buat apa saya kasih kontrol ke kamera saya, kalau ternyata saya lebih tahu pengaturan yang terbaik buat hasil foto saya? Jawabannya (saya temuin setelah beberapa tahun saya motret) adalah gak semudah yang saya pikirin.

Pada sebagian besar situasi motret yang saya temuin, elemen pencahayaan yang selalu saya perhatiin (pertama kali) adalah Aperture, karena secara dramatis akan ngaruh banget ke ketajaman gambar dan Depth of Field (DoF). Tentu aja saya juga perhatiin Shutter Speed, karena saya gak mau ada gambar yang blur karena kecepatan yang terlalu lambat, yang akhirnya bikin saya mikirin lagi tentang ISO. Setelah saya motret pake D7100, dan bahkan kamera full-frame saya D750, saya sadar bahwa sebagian besar situasi motret saya, saya biarin kamera saya yang ngatur otomatis ISO-nya, karena saya udah gak peduli lagi. Ini mungkin kedengeran ekstrim, tapi jujur aja, menurut saya, kalian juga seharusnya ngelakuin hal yang sama.

Dipotret pada ISO 2000 menggunakan Canon SL1 (EOS 100D)

Dipotret pada ISO 2000 menggunakan Canon SL1 (EOS 100D)

Beberapa fotografer cenderung ngelakuin pixel-peeping (ngeliat gambar secara detil dengan zooming gambar 100% atau lebih) dan saya harus ngakuin kalo saya juga ngelakuin itu. Waktu motret dengan ISO tinggi akan lebih sering ngehasilin gambar yang banyak noise-nya, apalagi kalau kita liat secara teliti dan di-zoom. Cuma, akhirnya saya sadar, bahkan kalo motret dengan D7100 pun (yang udah saya pake lebih dari 3 tahun), saya gak perlu lagi ngeliat hasil foto saya dengan super deket untuk nikmatin gambar itu, dan sebagian besar saya gak perduli lagi dengan noise yang muncul walaupun menggunakan ISO yang tinggi. Kalo saya harus milih hasil gambar yang saya potret, antara noisy dan blurry, saya akan lebih pilih noisy.

Untuk foto ini, saya atur Aperture pada f/3.3 dan biarkan sisanya kamera saya yang ngatur, yaitu 1/100 second Shutter Speed dan ISO 2800 supaya ngehasilin pencahayaan yang cukup.

Untuk foto ini, saya atur Aperture pada f/3.3 dan biarkan sisanya kamera saya yang ngatur, yaitu 1/100 second Shutter Speed dan ISO 2800 supaya ngehasilin pencahayaan yang cukup

Oh iya, tentunya ada beberapa kelemahan dari Auto ISO tentunya.

Salah satu limitasi yang cukup signifikan motret pake ISO tinggi adalah kurangnya Dynamic Range – pada dasarnya, seberapa banyak data yang sensor kamera sanggup tangkap untuk suatu gambar. Secara umum gambar yang dipotret pada ISO 4000 akan punya warna yang kurang cerah dan warna kulit yang keliatan kurang bagus atau terkadang keliatan palsu atau tidak natural, dibandingkan hasil foto yang pada ISO 400.

Milih atau ngatur ISO adalah hal terakhir yang saya pikirin ketika motret gambar ini. Saya pake Aperture f/4 dan shutter speed 1/100 second, kamera saya ngatur otomatis ISO 5000, dan saya sangat puas dengan hasilnya. Setahun lalu mungkin saya gak akan pernah berani pake ISO setinggi ini dan malah mungkin aja saya punya foto yang blur

Milih atau ngatur ISO adalah hal terakhir yang saya pikirin ketika motret gambar ini. Saya pake Aperture f/4 dan shutter speed 1/100 second, kamera saya ngatur otomatis ISO 5000, dan saya sangat puas dengan hasilnya. Setahun lalu mungkin saya gak akan pernah berani pake ISO setinggi ini dan malah mungkin aja saya punya foto yang blur

Tapi terlepas dari limitasi yang ada, motret pake Auto ISO bener-bener nguntungin buat saya, dan saya rasa harusnya kalian ngerasain hal yang sama. Kalau dari kalian ada yang belum pernah motret pake Auto ISO (atau mungkin ngehindarin), saya saranin untuk cobain deh dan coba liat hasilnya. Awalnya saya juga skeptis/ragu-ragu ngelakuin ini, tapi akhirnya saya malah ketagihan dan malah sebagian besar saya pake Auto ISO untuk fotografi saya.

Semoga ini bisa jadi referensi dan inspirasi buat kalian semua yang hobi dan bahkan berprofesi sebagai fotografer profesional ya.

By: Simon Ringsmuth

Simon Ringsmuth is an educational technology specialist at Oklahoma State University and enjoys sharing his enthusiasm for photography on his website and podcast at Weekly Fifty. He also posts regularly to Instagram where you can follow him at sringsmuth.

 

Sources:

  1. Digital Photography School blog
  2. Semua gambar berasal dari artikel asli dari Simon Ringsmuth di Digital Photography School blog

 

About Ngobrol Yuk!

A blog that shares casual chat around us.
Chat about everything interesting and shares useful information for people around us.

You can chat with us and contribute to share more useful information by sending your Chat to hello@ngobrolyuk.com